Generasi Muda Dapat Mengubah Potensi Maritim

Generasi Muda Dapat Mengubah Potensi Maritim

Oleh Jeremy Huang Wijaya

Pemuda adalah impian masa depan bangsa. Karena Pemuda yang akan melanjutkan Estafet Kepemimpinan Masa Depan Bangsa. Cerah atau tidak nya masa depan Bangsa tergantung dari kondisi kehidupan pemuda saat ini.

Anggota Komisi IV DPR RI sekaligus Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) IPB University, Prof. Dr. Ir. Rokhmin Dahuri, M.S., memberikan pembekalan kepada mahasiswa dalam kegiatan C-Day 2026 FPIK IPB University, dengan menekankan besarnya potensi ekonomi biru (blue economy). Blue Economy Indonesia Meliputi: (1). Perikanan Tangkap, (2). Perikanan Budidaya, (3). Industri Pengoalahan Hasik Perikanandan Seafoods, (4). Industri Bioteknologi Kelautan, (5). ESDM Pesisir dan Lautan, (6). Pariwisata Bahari, (7). Transportasi Laut, (8). Kehutanan Pesisir (coastal forestry), (9). Sumber Daya Wilayah Pulau-pulau Kecil, (10). Industri dan Jasa Maritim (Seperti: Galangan Kapal, Alat dan Mesin Kapal, Alat Penangkapan Ikan, Kincir Tambak dan Coastal and Ocean Enginering serta yang ke (11). SDA non-konvensional yang terdapat diwilayah pesisir dan kelautan.

Potensi nilai ekonomi total dari 11 sektor ekonomi tersebut sekitar Rp.1,4 triliun USD/Tahun atau sama dengan nilai seluruh ekonomi Indonesia (PDB) saat ini. Potensi lapangan kerja dari 11 sektor ekonomi tersebut lebih dari 4,5 juta orang/tahun. Sampai saat ini, Indonesia baru memanfaatkan sekitar 25% dari total potensi nilai ekonomi biru tersebut.

Prof. Rokhmin menjelaskan bahwa aktivitas ekonomi pada dasarnya mencakup tiga kegiatan utama, yaitu produksi, konsumsi, dan distribusi. Dalam konteks ekonomi biru, ketiganya harus dibangun secara terintegrasi dalam seluruh mata rantai ekonomi yang berkaitan dengan pemanfaatan sumber daya pesisir dan lautan.

Salah satu tantangan yang masih dihadapi sektor perikanan adalah belum terintegrasinya rantai pasok dari produsen hingga konsumen. Ketika produksi ikan sedikit, harga meningkat. Sebaliknya, ketika memasuki musim panen atau peak season, harga justru sering jatuh karena hasil produksi melimpah tetapi tidak diikuti kesiapan pasar, transportasi, kelembagaan ekonomi, dan sistem distribusi yang memadai.

“Kalau lagi enggak ada ikan harganya tinggi, begitu lagi panen raya harganya turun karena enggak ada integrasi manajemen, enggak ada manajemen koperasi atau pelelangan ikan,” jelas Prof. Rokhmin.

Karena itu, manajemen rantai pasok harus diperkuat. Ketika memasuki musim panen, pembeli (buyer) harus sudah tersedia dan sarana pengangkutan harus dipersiapkan agar hasil perikanan dapat segera didistribusikan ke pusat-pusat konsumsi seperti Bandung, Jakarta, dan wilayah lainnya. Dengan pengelolaan yang terintegrasi, hasil produksi dapat terserap pasar dan memberikan nilai ekonomi yang lebih baik bagi nelayan maupun pembudidaya.

Sebagai negara kepulauan dengan potensi sumber daya kelautan yang sangat besar, Indonesia membutuhkan generasi muda yang tidak hanya menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, tetapi juga inovatif, produktif, memiliki jiwa kewirausahaan, serta mampu mengelola sumber daya kelautan dan perikanan secara berkelanjutan.

Prof. Rokhmin berharap mahasiswa FPIK IPB tidak hanya bercita-cita menjadi pencari kerja (job seeker), tetapi tumbuh menjadi job creator, entrepreneur, inovator, dan pemimpin masa depan yang mampu menciptakan berbagai usaha produktif dan lapangan kerja baru di sektor kelautan dan perikanan.

Melalui penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, inovasi, kewirausahaan, serta manajemen rantai pasok yang baik, potensi ekonomi biru Indonesia harus ditransformasikan menjadi sumber pertumbuhan ekonomi, penciptaan lapangan kerja, peningkatan kesejahteraan rakyat, dan kemajuan bangsa.

Generasi muda harus menjadi kekuatan utama yang mengubah kekayaan maritim Indonesia dari sekadar potensi menjadi kemakmuran nyata bagi seluruh rakyat Indonesia.

Untuk itu, selama dibangku kuliah mahasiswa harus menguasai hard skills atau kecerdasan intelektual pada (Bidang ilmu dalam program studinya, seperti matematik, kelautan, perikanan, pertanian, kehutanan, teknik manufaktur, enginering, ekonomi dan hukum) maupun soft skill atau (kecerdasan emosional) seperti kolaborasi, jiwa wirausaha, memelihara motivasi, disiplin,leadership , etos kerja unggul, dan ahlak mulia) melalui rajin belajar, praktikum dan penelitian, aktivitas organisasi serta kepemimpinan baik melalui organisasi profesi kemahasiswaan internal atau profesi kemahasiswaan external seperti: HMI, PMII, IMM, GMNI, GMKI dan PMKRI.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *