Bandung Barat.Swara Wanita Net.-Ada pemandangan tak biasa dalam agenda turun lapangan yang dilakukan oleh Anggota DPRD Provinsi Jawa Barat dari Fraksi Partai Golongan Karya (Golkar), Tati Supriati Irwan, S.Sos. Kehadiran legislator perempuan dari Daerah Pemilihan (Dapil) Kabupaten Bandung Barat (KBB) ini berhasil memecah kekakuan yang biasanya melekat erat pada acara formal kedewanan.

Alih-alih memilih podium mewah atau ruang rapat ber-AC, Tati Supriati Irwan memilih metode yang jauh dari kata formal. Tanpa sekat dan tanpa jarak, ia langsung melepas alas kaki dan memilih duduk bersama warga di teras salah satu rumah milik warga Kp. Sukamulya Desa Langensari Kabupaten Bandung Barat. Jum’at 21 Agustus 2026.

Di teras sederhana itulah, diskusi hangat mengenai masa depan pembangunan wilayah KBB mengalir tanpa kecanggungan. Menariknya, pemandangan tumpukan sandal warga dan sang legislator yang berjajar rapi di depan pintu menjadi saksi bisu betapa dekatnya hubungan antara wakil rakyat ini dengan konstituennya.
“Kehadiran kami di sini bukan untuk dilayani, melainkan untuk mendengar langsung apa yang menjadi keluhan dan harapan masyarakat. Duduk bersama di teras rumah seperti ini membuat warga tidak sungkan lagi menyampaikan apa saja kebutuhan mendesak di wilayah mereka,” ujar Tati di sela-sela obrolan santai tersebut.

Dalam dialog lesehan yang berlangsung penuh kekeluargaan itu, warga secara bergantian menyampaikan aspirasi mereka, mulai dari perbaikan akses infrastruktur jalan perdesaan, program peningkatan ekonomi keluarga, hingga bantuan sosial. Semua masukan tersebut dicatat langsung oleh legislator Komisi 2 DPRD Jawa Barat ini untuk diperjuangkan di tingkat provinsi.

Pendekatan humanis yang ditunjukkan oleh politisi Golkar ini mendapat respons positif dari masyarakat yang hadir. Warga mengaku merasa lebih dihargai karena proses serap aspirasi berjalan sangat natural dan menyentuh esensi mendasar dari gotong royong.
Melalui momen ini, Tati Supriati Irwan membuktikan bahwa komitmen kerja nyata dan kedekatan dengan rakyat tidak melulu harus dikemas dalam seremonial yang kaku, melainkan bisa dimulai dari sebuah obrolan hangat di teras rumah warga pungkasnya. (die)










