Implikasi Dampak Naiknya dollar Turunnya IHSG
Oleh Jeremy Huang Wijaya
Pedagang mengeluhkan sepinya perdagangan, harga harga naiknya gila gilaan. Waktu hari Minggu penulis dagang di depan gereja Katholik Santo Martinus Kopo Bandung hanya dapat 35 ribu jualan dari Jam 5 pagi hingga pukul 11 siang,
Narasi pemerintah selalu berargumen soal fundamental ekonomi Indonesia masih solid, pasar menunjukkan sinyal berbeda. Nilai tukar rupiah terperosok hingga Rp 18.200 per dollar AS, sementara IHSG ambruk lebih dari 4 persen.
Kondisi itu memunculkan pertanyaan: jika ekonomi masih kuat, mengapa aset-aset Indonesia justru terus ditinggalkan pasar?
Pelemahan rupiah dan kejatuhan pasar saham terjadi secara bersamaan ketika investor global meningkatkan kewaspadaan terhadap prospek ekonomi Indonesia.
Tekanan yang terjadi pada pasar keuangan menunjukkan investor mulai memberikan premi risiko yang lebih tinggi terhadap Indonesia.
Fenomena “Sell Indonesia” yang ditandai derasnya arus keluar dana asing, pelemahan rupiah, dan koreksi tajam Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), dinilai mencerminkan menurunnya kepercayaan investor terhadap kepastian kebijakan di dalam negeri.
Di tengah tekanan pasar keuangan tersebut, pelaku pasar menilai faktor domestik justru lebih dominan dibandingkan gejolak global dalam memengaruhi keputusan investor untuk mengurangi eksposur terhadap aset-aset Indonesia, tekanan yang terjadi saat ini tidak semata-mata dipicu arus keluar dana asing, melainkan juga meningkatnya persepsi risiko terhadap Indonesia atau country risk.
Pelemahan nilai tukar rupiah yang mendekati Rp 18.000 per dollar AS, kekhawatiran terhadap implementasi kebijakan ekspor satu pintu, serta berlanjutnya arus keluar dana asing membuat investor memilih mengurangi eksposur terhadap aset berisiko di Indonesia.
Salah satu faktor yang memunculkan kekhawatiran investor saat ini adalah belum sinkronnya komunikasi antara Bank Indonesia (BI) dan Kementerian Keuangan.
Ketidakselarasan pesan yang disampaikan kedua institusi tersebut menciptakan unnecessary risk atau risiko yang sebenarnya tidak perlu muncul apabila komunikasi kebijakan lebih terkoordinasi
Pemerintah harus dapat mendengarkan permintaan pasar dan pengusaha
Lebih anehnya lagi pemerintah bukannya mengganti menteri menteri di bidang ekonomi dengan orang baru yang berkompeten diterima pasar, tetapi kemaren menambah orang baru dalam jajaran kementeriannya. Hal ini membuat anggaran semakin membengkak dengan menambah jumlah personil dalam kementerian seharusnya dikurangi.
Pasar pasar tradisional semakin sepi. Padahal pasar tradisional adalah salah satu indikator tolak ukur perekonomian rakyat kecil.
Blusukan ke pasar tradisional harusnya dijalankan oleh para menteri. Untuk dapat memberikan gambaran pasti akan kondisi ekonomi rakyat kecil.
Kenaikan dollar jatuhnya harga saham mempengaruhi ekonomi rakyat.






