Kisah Rakyat Kecil dari Tiongkok China
Oleh Jeremy Huang
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ekonomi Indonesia tumbuh 5,47% secara tahunan (yoy) pada kuartal III-2026. Yang jadi pertanyaan apakah rakyat kecil sudah menikmati nya mari kita belajar dari 2 kisah di Tiongkok
Kisah ini dari Tiongkok China, Yang terjadi Lebih dari dua ribu tahun silam, tetapi kisah ini masih relevan untuk kita renungkan saat ini.
Raja Ai dari Negeri Lu mengeluhkan kas kerajaan yang tidak mencukupi. You Ruo, murid Konfusius, menyarankan agar pajak atas hasil panen rakyat dikurangi menjadi sepersepuluh.
Raja Ai keberatan. Bahkan dengan mengambil dua persepuluh hasil panen, katanya, pendapatan kerajaan masih belum cukup. Bagaimana mungkin pajak justru dikurangi?
You Ruo menjawab dengan kalimat sederhana, tetapi sarat kebijaksanaan:
“Jika rakyat berkecukupan, siapa yang akan membuat rajamu kekurangan? Tetapi jika rakyat tidak berkecukupan, bagaimana mungkin rajamu bisa berkecukupan?” (The Analects, 12:9).
Ada satu lagi kisah yang dapat jadi renungan dalam tradisi ajaran Konfusius.
Suatu ketika, Konfusius melewati sebuah tempat di kaki gunung. Ia melihat seorang perempuan menangis di dekat makam keluarganya. Perempuan itu bercerita bahwa ayah mertuanya, suaminya, dan anaknya telah tewas diterkam harimau.
Konfusius bertanya mengapa ia tidak meninggalkan tempat berbahaya itu.
Perempuan tersebut menjawab bahwa di sana tidak ada pemerintahan yang menindas.
Mendengar jawaban itu, Konfusius mengucapkan ungkapan yang kemudian terkenal:
“Kezheng meng yu hu.” (Pemerintahan yang kejam lebih ganas daripada harimau).
Kisah ini tercatat dalam kitab Liji (Book of Rites).
Bayangkan betapa getirnya pesan itu. Seorang perempuan lebih memilih menghadapi ancaman harimau daripada hidup di bawah pemerintahan yang menindas.
Harimau mungkin menerkam tubuh manusia. Tetapi kekuasaan yang kehilangan nurani dapat menerkam kehidupan, menghilangkan harapan, dan merampas masa depan.
Maka, kepada para penguasa negeri ini, ada baiknya kita kembali mengingat nasihat You Ruo kepada Raja Ai:
“Jika rakyat berkecukupan, siapa yang akan membuat rajamu kekurangan? Tetapi jika rakyat tidak berkecukupan, bagaimana mungkin rajamu bisa berkecukupan?”
2 Kisah diatas itu betapa dalam maknanya untuk kita renungkan.
Negara kita adalah negara yang kaya, Gemah Ripah Loh jinawi. Kata Koes Plus batu dan Tongkat dapat jadi tanaman. Lautan nya bagaikan kolam susu. Tetapi yang jadi pertanyaan apakah rakyat kecil sudah sejahtera, apakah rakyat kecil sudah menikmati nya?
kemakmuran negara tidak mungkin dibangun dengan memiskinkan rakyat nya, rakyat saat ini dibebani pajak , dengan alasan untuk biaya pembangunan. Dan anehnya akan ada pajak untuk pembalut wanita. Ada pajak hiburan, pajak makanan, dan aneka pajak lainnya.
Sebab keberhasilan sebuah negara bukan semata mata diukur dari seberapa besar uang yang berhasil dikumpulkan pemerintah melainkan dari seberapa baik kehidupan rakyat, seberapa besar kesejahteraan rakyat nya itu yang terutama












