Pemerintah Harus Bergerak Cepat Mencegah Karhutla dan Melindungi Produksi Pangan

Pemerintah Harus Bergerak Cepat Mencegah Karhutla dan Melindungi Produksi Pangan

Oleh Jeremy Huang Wijaya

Saat ini El Nino semakin menguat banyak daerah tekena dampak dari El Nino yaitu waduk mengering, sumber mata air dan sumur mengering, takutnya mengakibatkan gagal panen, sedihnya pemerintah belum ada langkah langkah mengatasi semuanya itu, seperti hujan buatan.

Prof. Dr. Ir. Rokhmin Dahuri, M.S., Anggota Komisi IV DPR RI Fraksi PDI Perjuangan, mengingatkan bahwa dampak negatif El Niño secara garis besar mencakup dua ancaman utama, yakni meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan serta terganggunya produksi bahan pangan.

Menurut Prof. Rokhmin, pemerintah harus segera mengambil langkah teknis dan preventif di daerah-daerah yang telah diprediksi memiliki risiko tinggi. Berdasarkan data BMKG yang disampaikan dalam pernyataannya, telah terdeteksi 5.690 hotspot atau titik panas, terutama di Kalimantan Barat, Papua Selatan, dan Riau. Karena itu, upaya seperti modifikasi cuaca atau hujan buatan di wilayah rawan perlu dipertimbangkan secara cepat dan tepat.

Selain langkah teknis, edukasi kepada masyarakat juga menjadi sangat penting. Data historis menunjukkan bahwa kebakaran hutan dan lahan banyak dipicu oleh aktivitas manusia, termasuk pembukaan lahan dengan cara membakar maupun perilaku ceroboh seperti membuang puntung rokok sembarangan.

Prof. Rokhmin menegaskan bahwa pencegahan tidak bisa hanya mengandalkan aparat dan pemerintah. Masyarakat harus dilibatkan sebagai bagian dari sistem pengawasan dan pencegahan, sehingga kebakaran dapat dicegah sebelum meluas dan menimbulkan kerugian ekologis, sosial, serta ekonomi yang jauh lebih besar.

Di sisi lain, ancaman El Niño terhadap produksi pangan juga harus menjadi perhatian serius. Kekeringan, berkurangnya ketersediaan air, dan terganggunya musim tanam dapat menekan produktivitas pertanian dan berpotensi mengganggu ketahanan pangan apabila tidak diantisipasi sejak dini.

Prof. Rokhmin menyampaikan bahwa Komisi IV DPR RI telah mengingatkan pemerintah mengenai ancaman tersebut sejak Rapat Dengar Pendapat pada Maret. Namun, menurutnya, respons sejumlah kementerian mitra pada saat itu masih terlihat terlalu ringan dalam melihat potensi dampak El Niño.

“Terus terang kami di Komisi IV agak menyesalkan gerak pemerintah yang agak lamban. Saya sudah mengingatkan sejak bulan Maret agar segera melakukan antisipasi,” tegas Prof. Rokhmin.

Ia mengingatkan agar Indonesia tidak mengulangi pengalaman El Niño berat seperti yang pernah terjadi pada 2015. Ketika El Niño telah memasuki fase kuat dan terus menguat, seluruh elemen harus bergerak lebih cepat, berbasis data, dan tidak menunggu dampaknya membesar.

Karena itu, Prof. Rokhmin mengajak pemerintah dan masyarakat untuk bekerja bersama dengan prinsip kerja cerdas, ikhlas, dan tuntas. Pencegahan karhutla, perlindungan produksi pangan, pengelolaan air, edukasi masyarakat, dan koordinasi lintas sektor harus dilakukan secara terpadu.

El Niño bukan ancaman yang bisa dihadapi secara reaktif. Antisipasi harus dilakukan sebelum kebakaran meluas, sebelum lahan pertanian mengalami kekeringan, dan sebelum produksi pangan terganggu. Dengan kerja cepat, terukur, dan kolaboratif, dampak negatif El Niño dapat ditekan semaksimal mungkin.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *