Prof. Dr. Ir. Rokhmin Dahuri : Negara Kaya yang Belum Terkelola Dengan Baik

Prof Dr Ir Rokhmin Dahuri
Negara Kaya yang Belum Terkelola Dengan Baik
Oleh Jeremy Huang Wijaya

Prof. Dr Rokhmin Dahuri membuka data, Indonesia punya 289 juta penduduk, peringkat 4 dunia. Punya sumber daya alam melimpah. Posisi geostrategis di mana 45% perdagangan global lewat laut kita. McKinsey dan Goldman Sachs bahkan menyebut potensi pertumbuhan kita bisa 10% per tahun. Tapi setelah 81 tahun merdeka, kita masih terjebak sebagai negara middle-income.

Versi BPS, kemiskinan 2025 hanya 25,2 juta orang. Tapi versi Bank Dunia dengan standar baru US$ 6,85/hari atau Rp 3,4 juta/bulan, angka kemiskinan melonjak menjadi 172 juta orang atau 60,3% penduduk.

Sektor manufaktur sebagai tulang punggung menyerap tenaga kerja sedang kolaps. PMI Manufaktur Juli 2024 anjlok ke 49,3 (kontraksi). PHK sejak Covid-19 terus naik, mencapai 69.472 orang hingga Mei 2024. Akibatnya, pada Februari 2025, 86,6 juta pekerja atau 59,4% bekerja di sektor informal tanpa jaminan sosial. Tahun 2025, lapangan kerja baru yang tercipta hanya 1,9 juta, tidak cukup untuk menampung 3,5 juta angkatan kerja baru.

Di sisi lain, kualitas manusia Indonesia sedang dalam lampu merah. 1 dari 3 anak stunting (19,8%). IQ rata-rata nasional 89,96 peringkat 126 dari 137 negara, turun 3,22 poin. Skor PISA 2022 peringkat 69 dari 81 negara. Minat baca peringkat 60 dari 61 negara. HDI peringkat 113 dari 193 negara. Produktivitas pekerja hanya USD 29.636, kalah telak dari Singapura USD 222.072.

Bonus demografi yang dibanggakan, berubah menjadi bencana. Pengangguran pemuda 15-24 tahun 17,32%. NEET (pemuda yang tidak sekolah, tidak bekerja, tidak ikut pelatihan) 20,31% atau 9 juta orang, tertinggi di ASEAN.”
Sebuah data pahit disajikan di tengah Euforia menuju Indonesia emas 2045. Disaat Indonesia mengklaim diri sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, sektor yang menghidupi 75 persen wilayahnya dari kelautan dan perikanan ternyata hanya mendapat kucuran kredit perbankan sebesar 0,35 persen atau Rp 19,78 Triliun dari total Rp 5.687 Triliun. Fakta Miris itu diungkapkan Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB University, Prof Dr Ir Rokhmin Dahuri, MS dalam Kongres Himpunan Mahasiswa Perikanan Indonesia (HIMAPIKANI) ke XVII di Kampus Politeknik AUP, Pasar Minggu, Jakarta Selatan

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *