Apa Jare gebrake, anjlok rupiah bisa sampai meja makan.
Oleh Jeremy Huang Wijaya
Ketika menghadiri upacara kremasi Suryapranata, selesai upacara kami dijamu makan oleh pihak keluarga.
Disana penulis bertemu para pengusaha ada Halim Tando, Ada Sucipto Chandra, Ada Tony, ada Afong, ada pengusaha lainnya dalam satu meja membicarakan dagang yang tambah sepi.
Apalagi hari ini 15 mei 2026 dollar sudah 17,597 rekor tertinggi sesudah 1998.
Besaran nilai tukar ini sudah sangat jauh dari target yang ditetapkan dalam APBN tahun ini. Rupiah harus segera menguat untuk menghindari dampak-dampak buruk melemahnya nilai tukar terhadap masyarakat.
Mereka berkata wis mumet, apa jare gebrake artinya sudah pusing apa pun terjadi lah. Ini adalah ungkapan kepasrahan. Karena tidak tahu apalagi yang harus terjadi. Anjloknya rupiah bisa sampai meja makan kelas menengah paling rentan untuk turun drastis
Mereka mengharapkan keringanan untuk bayar pajak, jangan dikejar kejar pajak. Untuk biaya operasional dan modal aja udah gak ada apalagi untuk menyimpan.
Sementara untuk mengajukan kredit Lewa HIMBARA dipersulit, tidak mudah. Lewat proses yang berbelit Belit.
Jadi mereka tidak tahu harus berbuat apa.
Liburan panjang kemaren tanggal 14 Mei 2026, tidak banyak wisatawan yang datang, mereka datang karena ada anggota keluarga dan sahabatnya yang meninggal bukan khusus untuk wisata.jadi sekalian melayat kemudian kuliner. Pasar Kanoman jadi primadona untuk wisata kuliner.
Disana banyak mobil dari Solo, Jogja, Jakarta dan Bandung.
Tetapi tidak seramai seperti tahun sebelumnya.
Para pengusaha takut jika kenaikan dollar tidak dikendalikan akan membawa dampak pada kenaikan inflasi hingga dua digit












